Daftar tempat terapi mendengar (TAV) dan terapi wicara, serta parenting support:

.

Terapi Mendengar:

JAKARTA:

1. RS Pantai Indah Kapuk (Yay Indonesia Mendengar) 021-5885175

2. Yay Rumah Siput (ib Rini Sellang) 08161159151

3. CHILD (ib San-san) 081318066788

4. Kasoem Hearing 021-3151070

SURABAYA:

4. Yay Aurica (yayasan.aurica@gmail.com) 031 8475341, 031 70130801

Note: Jika anak anda mendapat manfaat dari terapi mendengar dan pengucapannya bagus, mungkin tidak perlu dibantu terapi wicara.

.

Terapi Wicara:

JAKARTA:

1. RSAB Harapan Kita (klinik tumbuh kembang) 021-5668284

2. ib Nia (di RSAB) 021-93722806

3. ib Dwi Yanti, Cinere 0818-186066, 021-94123138

4. Klinik Thamrin, Bekasi  8814262

.

Perkump ulan orang tua tuna rungu (parenting support):

SEMARANG: ib Tata 024-6932369, ib Luluk 08161884517

BANDUNG: ib Royke 022-6651205

JAKARTA: ib Dwi Yanti 0818-186066, 021-94123138

PALEMBANG: “Rumah Limas” (kontak: dr.Rizal  RS.Muhamaddiyah)

Silakan tambahkan jika ada info lainnya.

(by: papa Ellen)

Keywords: terapis, terapi wicara, tuna rungu, autis, pasca stroke, terapi mendengar, gangguan bicara, gangguan pendengaran

Gangguan bicara bisa dibedakan pada tuna rungu (karena gangguan pendengaran) dan pada non tuna rungu (karena sebab lain seperti autis dan stroke).

Anak autis misalnya, walaupun ada gangguan bicara tetapi sebenarnya bisa mendengar. Walaupun tidak/belum bicara tetapi proses pemasukan kosa kata melalui telinga terus berlangsung sejak masih bayi. Kemungkinan besar ia mengerti apa yang didengarnya, hanya saja perlu bantuan untuk bisa berbicara dengan baik. Dalam hal ini peran terapis adalah melatih si anak berkonsentrasi, memperkenalkan prinsip-prinsip berkomunikasi (misal lewat permainan gantian/giliran) dan melatih berbicara (termasuk pengucapannya).

Pada orang yang pasca stroke dan mengalami gangguan bicara, peran terapis lebih ke membantu untuk kembali bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas. Di sini penderita tidak perlu diajarkan prinsip berkomunikasi verbal karena ia bahkan sudah pernah melakukannnya.

Walaupun agak berbeda dengan kasus autis, keduanya mempunyai kesamaan yaitu bisa mendengar. Artinya proses ‘input’ bagus, tetapi karena suatu gangguan menyebabkan ‘output’nya bermasalah.

Pada anak tuna rungu, ‘output’nya bermasalah justru karena gangguan pada ‘input’. (Note: sepanjang tidak mengalami gangguan lain selain pendengaran, alias bukan dobel handicap.)

Memanfaatkan sisa pendengaran yang ada, dengan ABD gangguan pada input itu dikurangi semaksimal mungkin sehingga si anak bisa mendengar dengan lebih baik (walau tidak sempurna). Tapi tak jarang kita jumpai terapis wicara yang bahkan tidak tahu anak kita bisa mendengar dengan bantuan ABD, sehingga cara terapinya sepenuhnya mengandalkan gerak bibir. Bagi sebagian orang tua yang memilih metode terapi wicara mungkin tidak masalah.

Tetapi bagi kami yang menerapkan terapi terpadu (mendengar + wicara), kami lebih prefer pemasukan kosa kata alias ‘input’nya yang utama melalui telinga (bukan melihat gerak bibir) sementara terapi wicara untuk membantu output yaitu pengucapan kata-kata yang si anak sudah mengerti tapi kesulitan mengucapkannya (Plus pada saat awal memperkenalkan prinsip berkomunikasi, karena saat itu kalau ada orang yang ngajak bicara, Ellen masih cenderung menirukan, bukan gantian bicara).

Dalam hal ini terapis wicara minimal harus tahu bahwa si anak bisa mendengar. Selanjutnya kami juga perlu sharingkan prinsip-prinsip dasar terapi mendengar agar dia tahu kalau kami juga menjalankan terapi lain (secara lisan, pinjamkan artikel) serta model terapi terpadu yang kami hendak jalankan dengan bantuan dia.

Jika terapis wicara tidak tahu kalau si anak bisa mendengar, pada saat permainan gantian misalnya, ia akan memberi aba-aba “Ellen” “Ibu” “Ellen” “Ibu” dst dengan cara berteriak sambil meminta Ellen memperhatikan gerak bibirnya. Sementara dengan pendekatan terapi mendengar/TAV, aba-aba seperti itu dilakukan secara full verbal, jadi sekaligus untuk melatih si anak mengenali suara. (Note: bahkan di TAV si terapis menutupi mulutnya dengan tangan/kertas agar tidak terlihat gerak bibirnya, tetapi kami sendiri jarang begitu karena kadang Ellen malah ikut menutupi mulutnya; kami lebih sering mengucapkannya dari samping/belakang.)

Dengan pemahaman sederhana bahwa si anak bisa mendengar, terapis wicara diharapkan tidak terlalu menuntut si anak melihat gerak bibirnya –kecuali tentunya pada saat belajar membentuk pengucapan yang benar.

Tidak mudah memang memperkenalkan metode ini ke terapis wicara yang biasanya beranggapan anak tuna rungu tidak bisa mendengar. Tetapi tidak sedikit juga yang bersikap terbuka dan bisa diajak bekerjasama membantu perkembangan si anak. (by: papa Ellen)

Keywords: ABD, cochlea implant / implan koklea / CI / operasi rumah siput, terapi mendengar / auditori verbal, TAV / AVT, intervensi dini, habilitasi, terapi wicara, kemampuan verbal, tuna rungu

Pilih pakai alat bantu dengar (ABD) atau operasi rumah siput (cochlea implant, CI)?
Tentu saja soal kualitas ada perbedaan antara ABD vs CI. Tapi dalam kenyataannya ada hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan untuk pilih ABD atau CI — bukan semata-mata soal beaya. Dan rasanya memang tidak perlu mempertentangkan keduanya.

Saya pernah lihat anak tunarungu yang menjalani operasi CI tapi kemampuan verbalnya minim. Sebaliknya juga pernah ketemu anak CI yang kemampuan verbalnya mendekati anak normal. Katanya juga ada anak ABD yang kemampuan verbalnya sangat bagus, bahkan bisa berkomunikasi via telepon. Tentu saja juga banyak anak ABD yang kemampuan verbalnya minim.

Sama-sama pakai ABD, kemampuan verbalnya beda. Sama-sama operasi CI, kemampuan verbalnya juga beda. Jadi tampaknya faktor utama penentu kemampuan verbal anak tuna rungu bukan pada alat yang dipakai (ABD vs CI). Hal inipun diakui oleh beberapa terapis TAV dan orang tua anak CI.

Faktor yang lebih menentukan adalah terapi-nya. Pada umur berapa mulai pakai ABD (atau menjalani operasi CI), dan langsung diikuti terapi mendengar (TAV) yang ulet. (Ada yang menggunakan istilah: intervensi dini dan habilitasi.)

Mengapa intervensi dini sangat penting? Karena, kata penelitian, usia optimal untuk perkembangan kemampuan audiologi seorang manusia ada batasnya, hanya kira-kira sampai usia 5-6 tahun — berbeda dengan kemampuan intelektual yang masih berkembang sampai usia dua puluhan (kan banyak orang kuliah).

Dan mengapa terapi/habilitasi sangat penting? Karena anak tunarungu (sejak lahir) sama sekali belum pernah mendengar. Kalaupun sekarang bisa mendengar (entah karena pakai ABD atau CI), bukan berarti ia langsung mengerti apa yang didengarnya. Ia harus dilatih untuk mengenali, membedakan dan memahami suara yang didengarnya, hingga selanjutnya bisa mengucapkannya — begitu prinsip dasar terapi mendengar. (Dan jika perlu dibantu terapi wicara untuk pengucapannya)

Jadi, pilih pakai ABD atau CI? Pilih terapi yang bagus! (by: papa Ellen)

Keywords: terapi mendengar, terapi wicara, tuna rungu, auditori verbal, TAV / AVT

Sejauh ini kami mendapatkan banyak manfaat dari kombinasi terapi mendengar (untuk memasok kosa kata supaya si anak ngerti suatu kata) dan terapi wicara (untuk membantu pengucapan yang benar).

Berkat terapi mendengar (auditori verbal /TAV) Ellen bisa membedakan kata “papa” dan “mama” yang ia dengar tanpa melihat gerak bibir kami. Jika kami tanya “Mana papa?” atau “Mana mama?” ia bisa menjawab dengan benar (dengan menunjuk sambil mengucapkan papa/mama). Tapi pengucapannya belum jelas, kata “pa” ia ucapkan mirip “ma”.

Oleh terapis wicara (saat itu masih terapi di suatu RS di Jakbar) Ellen dibantu membedakan pengucapan “pa” dengan “ma”. Entah bagaimana teknik terapinya, tapi hasil pengucapannya bisa dicek yaitu dengan pegang hidung dan rasakan perbedaan getarannya (silakan coba!). Di rumah kami praktekkan pengecekan tsb (Ellen juga suka mempraktekkannya sendiri) beberapa kali. Alhasil Ellen sudah bisa mengucapkan “papa” dengan benar.

Contoh lain, ketika saya tanya Ellen, “Mama mana?”, dia lihat sekeliling sekilas, kalau tidak terlihat mamanya sering ia ikut tanya “Mama mama?” — maksudnya “Mama mana?” tapi yang keluar kata “mana” mirip pengucapan kata “mama”.

Oleh terapis wicara di sekolah, entah dengan teknik wicara bagaimana (tapi hasil pengucapannya bisa dicek dengan sentuh bagian bawah dagu dekat leher), sekarang Ellen bisa bedakan pengucapan kedua kata tsb. Kadang ia masih keceplos mengucapkan “Mama mama?” tapi segera diralatnya sendiri, “Mama maNA?”.
(by: papa Ellen, berdasarkan penanganan Ellen dengan peran besar sang mama)

Akan sangat bermanfaat jika ada terapis wicara yang bergabung dan berbagi ilmunya

Ke Halaman Depan

Keywords: koordinasi, peran, orang tua, guru, sekolah, terapis, belajar, terapi wicara, auditori verbal, tuna rungu / tunarungu

Kendala Ellen

Peran guru

Tim PP

Teman

Orang tua

Memahami percakapan di kelas Memberi tahu orang tua materi harian, kalau bisa >1 hari sebelumnya (untuk mencari gambar yg sulit diperoleh)

 

• Menyiapkan Ellen sebelumnya• Mengulang lagi sesudahnya
Memahami instruksi guru Guru pendamping mengulang dengan bicara dekat telinga, volume normal, kalimat pendek, pointnya saja

jika belum mengerti:

• dengan gerakan tangan

• ditulis di buku catatan

 

Melatih di rumah sesuai catatan dari guru
Memahami pembicaraan teman

 

Berbicara secara biasa (bertatap muka)

jika blm mengerti:

dengan gerakan tangan

Mengajar Ellen menjawab pertanyaan/ mengucapkan sesuatu Berbicara dekat telingajika Ellen sulit mengucapkan:• dibantu dengan Ellen melihat gerakan mulut

• ditulis di buku catatan

 

Melatih di rumah sesuai catatan dari guru
Pengucapan belum jelas Membetulkan pengucapan dgn teknik2 terapi wicara • Memberi masukan pada tim PP mengenai kata-kata baru yang sudah dimengerti Ellen, untuk dibetulkan pengucapannya• Membantu follow up dengan teknik auditori verbal
Keterbatasan vocab

 

Menguji pemahaman berdasarkan laporan berkala dari orang tua

• Memasok kosa kata2 baru dengan teknik auditori verbal, terutama yang sedang jadi materi di kelas

• Melaporkan pada tim PP secara berkala (mingguan)

(by: mama Ellen)

Ke Halaman Depan

Keywords: komunikasi, tuna rungu / tunarungu, berbicara, bercakap-cakap, gerak bibir, terapi

Dalam percakapan sehari-hari dengan kata-kata yang sudah dimengertiEllen, bukan ketika sedang terapi atau mengajarkan kata/kalimat baru (maksud “dimengerti”: Ellen sudah paham yang kita maksud, walaupun kadang ia bisa merespon dengan kata-kata dan kadang belum bisa):

kita berbicara secara normal
(sebagaimana bicara dengan semua orang lain)

Karena untuk itulah Ellen dimasukkan ke komunitas umum supaya sedikit demi sedikit belajar sampai suatu saat bisa mengejar ketertinggalannya.

Jadi kami minta pengertian dan kerjasama semua pihak yang terkait dengan kehidupan sehari-hari Ellen (keluarga, pengasuh, guru sekolah, terapis wicara, guru sekolah minggu, teman-teman, tetangga) untuk:

1. Tidak memandang Ellen sebagai anak yang khusus jadi tidak perlu mengajaknya berkomunikasi dengan cara khusus (memperlihatkan gerak bibir, berbicara keras/teriak, bahasa isyarat/gerakan tangan)

2. Memahami keterbatasan komunikasi Ellen karena usia mendengarnya yang baru 2 tahun sehingga belum banyak kosa kata (tetapi perkembangan intelektualnya biasa) dan berbicara secara normal sebagaimana kepada anak yang masih sangat kecil, sambil memberi ruang kepada Ellen untuk mengejar ketertinggalannya.

Point 1 terutama sangat berat. Sulit sekali mengubah paradigma dan persepsi kebanyakan orang terhadap anak tuna rungu: Bahwa anak tuna rungu tidak bisa mendengar, sehingga harus bicara berhadap-hadapan dengan perlihatkan gerak bibir, dengan suara keras/teriak, dengan bantuan isyarat/gerakan tangan.

Syukurlah anggota keluarga di rumah sudah sama pandangan dan menerapkannya. Kalangan lain mudah-mudahan bisa segera menyusul. (by : papa Ellen)

Ke Halaman Depan

Keywords: terapi mendengar / terapi dengar, auditory verbal therapy / terapi auditori verbal, auditory oral therapy, AVT / TAV, terapi wicara, implan koklea / cochlea implant, alat bantu dengar / ABD, komunikasi, tunarungu

— Isi artikel ini sama dengan halaman depan

tetapi ada beberapa komentar yang masuk ke sini —

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.